Postingan

PULANG

Kembali kaki menapaki bumi manusia timur indonesia. Menghirup aroma tumisan ikan asin yang sudah mewakili nikmatnya. Berdamai dengan senandung kicauan jangkrik yang beradu dengan paduan suara katak pohon. Tiada rupa menjadi beda, Pun keriput pada pipi bapak tampak tak berubah, rambutnya yang sedari dulu nampak hitam dengan putih hanya setitik, masih saja seperti kala ku raih telapak kanannya dan kukecup seraya mengucap pamit. Senyumnya merekah, menyambutku melangkah setengah berlari menggandeng ransel berisi pakaian kotor. Kupeluk erat tubuh rentanya, kudengar suaranya bergetar mencoba mengalihkan haru rindu, meramu sebuah jenaka bahwa aku tampak hitam dekil tak menarik. Dan aku percaya itu. Percaya bahwa bapak sedang mengawur. Belum kupindahkan tas dari bahuku, mama mendahului, menjamu dengan kicauannya yang tentu lebih bising dari burung perkutut memanggil wanitanya di pagi hari. Dengan sepiring donat berselimut gula bersanding teh tawar hangat. Ku rampas bawaannya itu lalu ku cium ...

Belenggu Membuat Tangguh

Gambar
Terjebak dalam belenggu perkara sosial atau ekonomi juga pekerjaan kerap melongsorkan intensitas kita terhadap laku baik. Malah mengguratkan segumpal unek unek, makian, serta ketidakterimaan terhadap masalah yang memberatkan. Bak seekor macan yang terperangkap dalam jaring pemburu, hanya meronta ronta tanpa daya, berakhir menjadi tas merk terkenal. Seringnya kita mengelak, namun tanpa upaya ketika sedang dalam cekaman. Baik itu cekaman tugas, cekaman hutang, maupun cekaman deadline. Tumbuhanpun tak pernah lepas dari cekaman. Bagaimana kacang hijau terhadap cekaman genangan banjir atau padi dari cekaman kekeringan. Cekaman kekeringan menjadikan sebagian stomata daun menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis. Selain itu, juga menghambat sintesis protein. Sementara tanaman kacang hijau umumnya ditanam di lahan sawah pada musim kemarau setelah padi atau tanaman palawija yang lain. Kacang hijau lebih toleran kekeringan. Cekaman genangan pada tanama...

Kamu Wajib Covid, Setidaknya Sekali Seumur Hidup!

Gambar
​ Makassar baru saja mengumumkan dirinya sedang berada di pembatasan level tiga.  Disusul hasil tes pcr yang menyatakan saya positif Covid. Bukan panik atau kaget, saya bingung bagaimana cara menyampaikan kabar asing ini ke keluarga. Bagaimana harus izin ke kantor yang baru seminggu memulai adaptasi. Dan bagaimana menjalani hari-hari sebagai penyintas nantinya. Terkesan visioner. Tapi milenial menyebutnya overthinking. Satu hal yang akhirnya saya sadari, Covid bukan perkara remeh temeh bak topik obrolan pasangan baru di penghujung malam lewat telepon. Covid bukan penyakit menular sejenis flu batuk yang sering saya dengar dari mulut mulut mereka yang belum terjangkit. Berat rasanya menerima kenyataan bahwa saya, dengan sangat terpaksa bergabung menjadi pasien covid gelombang tiga, tahun 2022. Padahal, belum lama ini cukup berbangga diri karena berada di lingkup yang aman aman saja, pikirku. Kisah ini dimulai tepat pukul 06.15 Wita. Alarm di Selasa pagi, 15 Februari. Tenggorokan saki...

Muslim Natalan ke Gereja, Toleransi atau Curiosity ?

Gambar
​ Hari raya besar keagamaan, natal, sudah terlewati. Sukacita luar biasa, tahun ini bisa memperingatinya dengan bersua di satu atap bersama keluarga untuk menuang hangatnya suasana pun rasa bahagia. Tetiba teringat tahun-tahun natal terakhir bersama kerabat yang justru tidak merayakan. Sedikit rayuan dan iming iming, mereka terperdaya untuk nimbrung dalam perayaan gerejawi tersebut, bahkan satu diantaranya justru menawarkan diri. Wkwk Batinpun bersorak bak bala tentara sorga menyambut hari kelahiran sang juruslamat. Begitulah perantau tanpa keluarga, kerap mengukuhkan jalinan rumpun keluarga lewat keakraban antar sejawat. Mereguk penasaran, tiga muda mudi masjid inipun berkemeja rapi, menyibuki diri dengan opsional jawaban akan pertanyaan para jemaah legal, juga membekali diri untuk berbagai ritual. Berjalan beriringan menuju altar mengikuti arahan tanpa protes, wajah mereka merona tersentuh kerlap kerlip ornamen lampu pohon imitasi. Ibadah berlangsung dan mereka tampak begitu menikmat...

2030

Kekasih, Lihatlah, ia telah bertolak Kedua netraku menyaksikan punggungnya lenyap diterkam harap baru. Ia meringis, jiwanya lusuh terbasuh unsur bersatu. Seperti benang lusut kisut di pembuangan rumah bordir. Kekasihku bermata buah delima, Lihatlah, ia berkali kali memuai mencecap nikmat menawan, dan berjuta kali tumpas ditangan pahlawan. Ia tak berdaya, meski sekadar mengintip melalui tingkap-tingkap. Ia telah tamat. Kekasihku semanis madu, Bangunlah dari lelap panjangmu. Hari-hari penuh ratap telah terjengkang, Perhatikan rumah-rumah ibadah, Pandanglah sekolah-sekolah,  Lihatlah para pemburu nafkah, Mereka gaduh memenuhi ruang bertemu. Kekasih... Pengkhotbah mendekap mimbar, Pelajar merangkum hasil seminar, Para buruh jalanan memenuhi trotoar,  Pendemo mulai berkoar-koar. Dunia kembali dipenuhi hingar-bingar. .............. "Lelapku biarlah tak kenal lelah, Ajalku kiranya segera menjajal. Hajat hidup bergairah telah lucut.  Di setiap hati timbul segala pikiran jahat;...

Kebangkitan Kristus atau Kebangkitan Virus ?

Tak  ada habisnya bicara soal COVID-19 yang seakan selimuti dunia saat ini. Saking terbuainya, kita lupa hari raya Nyepi berlalu tanpa kasak-kusuk. Paskah yang sudah di depan mata akan diratapi tanpa bising. Idul Fitri juga terancam dilaksanakan di rumah masing-masing—wetz, tidak perlu terlalu jauh menuju hari kemenangan, Sholat jum’at yang dirumahkan sudah merupakan titik terang.   Kita tidak lagi menjumpai kepadatan rumah-rumah ibadah. Semua tampak sepi, sunyi dan dipagari. Peribadatan seperti dipecundangi pandemi. Segala ritual maupun seremoni dilucuti tanpa berani membentengi diri. Saat ini kita menghampiri Tuhan bukan (lagi) di masjid, di gereja, di vihara atau pura melainkan di rumah. Di dalam kesendirian, keheningan, ketulusan dan harap yang tidak dibuat-buat. Pandemi yang datang tanpa membawa paspor seolah menampar kita. Tuhan tidak melulu dijumpai pada perkumpulan dan keramaian, seperti dalam kitab Matius 6 ayat 5-6: “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti ...

April meratap

Biarlah lenyap ketakutan menjajah dan resah membabi buta. Biarlah rasa itu melebur dalam pekat-dinginnya tengah malam jangan kira fajar menyingsing terlalu cepat. Biar ia terkubur mati dalam gamang, ditudungi awan gemawang nun kelam dan diselimuti gerhana matahari mencekam janganlah ia menari kegirangan pada hari-hari kemelut kian sesak. Biarlah gemerlap bintang-bintang menjadi gelap hingga termangu dalam penantian sinar yang tak kunjung menggegap.. Biarlah gemuruh mengusik benteng persembunyian dan sengat urat langit membinasakan jiwanya. Karena betapa sungguh, ia mematahkan juga mengeringkan tulang-tulang semangat, meredupkan bara nalar dan menggerogoti palung logika. Mengapa aksara memperanakkan dan mengasuh sengsara?  Mendandaninya elok rupawan idaman manusia-manusia tanpa arah. Mengapa aksara mengandung lawan kata dan negasi?  Seolah setetes tawa patut bersanding sepancur air mata. Jika saja tidak, penyanitasi tangan takkan jadi rebutan  dan penimbun alat pelindung...