Postingan

Menampilkan postingan dengan label poem

Sini, duduk bersamaku Tuan.

Akhirnya tubuh minta jatahnya istirahat. Mengistirahatkan jiwa yang amburadul rasanya. Mencoba menyadari nikmat sehat kala sakit menghampiri. Lara mulai menggerogoti tubuh yang tak mampu lagi teguh. Hanya mampu berbaring lesu. Pikiran mulai lumpuh, sekujur tubuh rapuh. Kau tahu apa yang masih kuat untuk ku ? Kata rindumu yang ku baca lewat kaca beraksara. Aku tahu Tuan, bukan cuma penyakit yang menyiksa diri, juga rasaku yang hidup terlalu dalam di jiwamu. Tak ada hujan malam ini, namun dinding kamarku dingin dan kelam. Entah ini cerminan rasaku atau lantaran seraut bayangmu menggelayut tepat di langit-langit kamar. Sesekali menyembul  di dasar mangkok sisa mie instan, bahkan melekat pada frasa yang ku buat. Jenis jelmaan yang menyebalkan! Mengapa tak menjelma uang seratus ribuan? Untuk kubelikan martabak manis kesukaanmu. Agar aku punya alasan bertemu. Tak tahukah kamu Tuan, di tiap gerak ku adalah penantian pesan singkat bernada romantik darimu. Kirimi aku lagi tuan. Tenggel...

PULANG

Kembali kaki menapaki bumi manusia timur indonesia. Menghirup aroma tumisan ikan asin yang sudah mewakili nikmatnya. Berdamai dengan senandung kicauan jangkrik yang beradu dengan paduan suara katak pohon. Tiada rupa menjadi beda, Pun keriput pada pipi bapak tampak tak berubah, rambutnya yang sedari dulu nampak hitam dengan putih hanya setitik, masih saja seperti kala ku raih telapak kanannya dan kukecup seraya mengucap pamit. Senyumnya merekah, menyambutku melangkah setengah berlari menggandeng ransel berisi pakaian kotor. Kupeluk erat tubuh rentanya, kudengar suaranya bergetar mencoba mengalihkan haru rindu, meramu sebuah jenaka bahwa aku tampak hitam dekil tak menarik. Dan aku percaya itu. Percaya bahwa bapak sedang mengawur. Belum kupindahkan tas dari bahuku, mama mendahului, menjamu dengan kicauannya yang tentu lebih bising dari burung perkutut memanggil wanitanya di pagi hari. Dengan sepiring donat berselimut gula bersanding teh tawar hangat. Ku rampas bawaannya itu lalu ku cium ...

Kalbu menderu ~

Bahkan dua kata yang kudengar dari gema suara mu mampu menjelma jadi mantra penyejuk dahaga akan rindu yang berusaha kuredam, namun akhirnya membara jua. Gebu rindu yang semakin ku diam semakin mengoar ngoar ingin keluar Gejolak rasa ingin temu yang meronta ronta tak kunjung bersua kamu. Sekali lagi ku katakan, Rasaku belumlah menemui titik lelah. Perasaan ini sama sekali belum lenyap, sebab diam diam rindumu masih kuharap.

mari saling melupa ~

Gambar
Kehilanganmu adalah patah bahkan jatuh terperih. Tak mau mengulang meski harus terulang. Tak perlu khawatir tentang aku yang kembali sendiri.  Aku masih bisa menyeka air mata di pipi. Aku pernah sendiri bersama sepi,  sebelum kamu datang untuk mencoba meramaikan hati.  Meskipun kau gagal menjaga,  Akan kucoba kembali melupa. Tegapkan kakimu untuk selalu menjauh, jangan datang mengharap sebuah kenang. Jika sekaranng kamu datang lagi, sayangnya pintu sudah saya kunci mati.

Punah ~

Gambar
Kau pernah disini, disisiku Pernah dengan segala cara kupertahankan Walau akhirnya, kau beranjak dari kisah kisruh dan segala luka yang kau suguh. Kini, Kita hanya saling memandang dari jauh Membisu bak terasingkan Seolah air mata menjadi wakil Tentang sesak yang kian menyeruak dalam benak. Bila nantinya padaku kau amnesia Akan kuingat segala perjuanganku yg sia sia Bahwa aku, Pernah merapal rasa yang kini telah punah.