Postingan

Menampilkan postingan dengan label Essai

Belenggu Membuat Tangguh

Gambar
Terjebak dalam belenggu perkara sosial atau ekonomi juga pekerjaan kerap melongsorkan intensitas kita terhadap laku baik. Malah mengguratkan segumpal unek unek, makian, serta ketidakterimaan terhadap masalah yang memberatkan. Bak seekor macan yang terperangkap dalam jaring pemburu, hanya meronta ronta tanpa daya, berakhir menjadi tas merk terkenal. Seringnya kita mengelak, namun tanpa upaya ketika sedang dalam cekaman. Baik itu cekaman tugas, cekaman hutang, maupun cekaman deadline. Tumbuhanpun tak pernah lepas dari cekaman. Bagaimana kacang hijau terhadap cekaman genangan banjir atau padi dari cekaman kekeringan. Cekaman kekeringan menjadikan sebagian stomata daun menutup sehingga terjadi hambatan masuknya CO2 dan menurunkan aktivitas fotosintesis. Selain itu, juga menghambat sintesis protein. Sementara tanaman kacang hijau umumnya ditanam di lahan sawah pada musim kemarau setelah padi atau tanaman palawija yang lain. Kacang hijau lebih toleran kekeringan. Cekaman genangan pada tanama...

Kamu Wajib Covid, Setidaknya Sekali Seumur Hidup!

Gambar
​ Makassar baru saja mengumumkan dirinya sedang berada di pembatasan level tiga.  Disusul hasil tes pcr yang menyatakan saya positif Covid. Bukan panik atau kaget, saya bingung bagaimana cara menyampaikan kabar asing ini ke keluarga. Bagaimana harus izin ke kantor yang baru seminggu memulai adaptasi. Dan bagaimana menjalani hari-hari sebagai penyintas nantinya. Terkesan visioner. Tapi milenial menyebutnya overthinking. Satu hal yang akhirnya saya sadari, Covid bukan perkara remeh temeh bak topik obrolan pasangan baru di penghujung malam lewat telepon. Covid bukan penyakit menular sejenis flu batuk yang sering saya dengar dari mulut mulut mereka yang belum terjangkit. Berat rasanya menerima kenyataan bahwa saya, dengan sangat terpaksa bergabung menjadi pasien covid gelombang tiga, tahun 2022. Padahal, belum lama ini cukup berbangga diri karena berada di lingkup yang aman aman saja, pikirku. Kisah ini dimulai tepat pukul 06.15 Wita. Alarm di Selasa pagi, 15 Februari. Tenggorokan saki...

Muslim Natalan ke Gereja, Toleransi atau Curiosity ?

Gambar
​ Hari raya besar keagamaan, natal, sudah terlewati. Sukacita luar biasa, tahun ini bisa memperingatinya dengan bersua di satu atap bersama keluarga untuk menuang hangatnya suasana pun rasa bahagia. Tetiba teringat tahun-tahun natal terakhir bersama kerabat yang justru tidak merayakan. Sedikit rayuan dan iming iming, mereka terperdaya untuk nimbrung dalam perayaan gerejawi tersebut, bahkan satu diantaranya justru menawarkan diri. Wkwk Batinpun bersorak bak bala tentara sorga menyambut hari kelahiran sang juruslamat. Begitulah perantau tanpa keluarga, kerap mengukuhkan jalinan rumpun keluarga lewat keakraban antar sejawat. Mereguk penasaran, tiga muda mudi masjid inipun berkemeja rapi, menyibuki diri dengan opsional jawaban akan pertanyaan para jemaah legal, juga membekali diri untuk berbagai ritual. Berjalan beriringan menuju altar mengikuti arahan tanpa protes, wajah mereka merona tersentuh kerlap kerlip ornamen lampu pohon imitasi. Ibadah berlangsung dan mereka tampak begitu menikmat...

Kebangkitan Kristus atau Kebangkitan Virus ?

Tak  ada habisnya bicara soal COVID-19 yang seakan selimuti dunia saat ini. Saking terbuainya, kita lupa hari raya Nyepi berlalu tanpa kasak-kusuk. Paskah yang sudah di depan mata akan diratapi tanpa bising. Idul Fitri juga terancam dilaksanakan di rumah masing-masing—wetz, tidak perlu terlalu jauh menuju hari kemenangan, Sholat jum’at yang dirumahkan sudah merupakan titik terang.   Kita tidak lagi menjumpai kepadatan rumah-rumah ibadah. Semua tampak sepi, sunyi dan dipagari. Peribadatan seperti dipecundangi pandemi. Segala ritual maupun seremoni dilucuti tanpa berani membentengi diri. Saat ini kita menghampiri Tuhan bukan (lagi) di masjid, di gereja, di vihara atau pura melainkan di rumah. Di dalam kesendirian, keheningan, ketulusan dan harap yang tidak dibuat-buat. Pandemi yang datang tanpa membawa paspor seolah menampar kita. Tuhan tidak melulu dijumpai pada perkumpulan dan keramaian, seperti dalam kitab Matius 6 ayat 5-6: “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti ...

Surat Kecil untuk Kampung Halaman ~

Matahari sore tampak tersisa sepenggal kala jemariku liar menekan huruf-huruf pada keyboard, demi memastikan kau tahu aku merana dalam bilik setelah mendapat undangan pulang darimu. Tak hanya pikiran juga perasaanku yang menggila rindu padamu, seluruh organku mengamuk menggeliat mengusikku dalam desakan tanpa daya. Perlu kau tahu, negeri ini sedang dalam cengkraman penjajah yang datang dari negeri nun jauh. Semua terjadi begitu tiba-tiba tanpa aba-aba. Tepat seperti kabar bencana dahsyat yang datang dari wilayah tengah Sulawesi dua tahun lalu atau bak berita kematian seorang aktor kenamaan Indonesia yang berkunjung tanpa mengucap salam. Tiba-tiba saja bencana, tiba-tiba viral media sosial, tiba-tiba kontroversi berita, dan tiba-tiba wabah Corona. Virus yang paling banyak menyerang warga Wuhan, China, ini oleh WHO ditetapkan sebagai pandemi, kawan. Di indonesia tercatat sudah terdapat 1528 kasus dengan angka kematian 136 dan pulih sebanyak 81, berdasarkan sumber berita CNN Indonesia 31/...

Negeri para pedagang

Menjadi Indonesia adalah menjadi kesedihan yang tanpa henti. Belum kering luka yang satu, sudah tergores luka yang lain. Belum kering luka yang lain, sudah tergores luka yang baru. Asap pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra tidak hanya menganggu pernafasan masyarakat, tapi juga menutup akal sehat dan pandangan jernih para penguasa. Ada dua kabut asap yang mengepung Indonesia saat ini. Pertama, kabut asap di Riau dan sekitarnya yang disebabkan oleh kebakaran hutan. Kedua, kabut asap kekuasaan yang terjadi di pusat pemerintahan akibat konfrontasi kepentingan para elite politik dan pemodal raksasa. Negara baru dikatakan maju kalau perdebatan yang ditimbulkannya berbicara seputar ngopi enaknya di rumah atau di cafe, fakir miskin dan anak terlantar setiap bulan dikasih beras Rojolele atau Si Pulen. Kalau ribut-ributnya soal RUU ngawur itu berarti negaranya tidak beres. Wakil rakyat sebaiknya diganti saja. Sebab jelas tidak aspiratif, tidak mewakilili kehendak warga negara, dan sangat b...